*EKONOMI ISLAM, EKONOMI HIJAU/GREEN ECONOMIC
*EKONOMI ISLAM, EKONOMI HIJAU/GREEN ECONOMIC,
(Upaya Mencegah Perubahan Iklim dan Pemanasan Global).
(Upaya Mencegah Perubahan Iklim dan Pemanasan Global).
Beberapa Ekonom-ekonom Barat, di era modern ini. Menyebutkan bahwa ekonomi islam/syariah dengan istilah ekonomi hijau, yaitu sistem ekonomi yang pro-lingkungan hidup atau /kehutanan/dll. Artinya bahwa, dalam setiap kebijakan pemerintah, perusahaan atau lembaga usaha tidak sekedar mencari/mengejar laba dan rugi yang tinggi.
Tetapi juga lembaga usaha perlu memerhatikan atau bertanggung jawab terhadap kondisi lingkungan sosial, ekonomi dan budaya disekitar lembaga usaha tersebut. Karena, percuma sebuah perusahaan itu mempunyai modal atau laba yang tinggi, tapi mengabaikan kondisi lingkungan sosial dan budaya masyarakatnya hidup dalam keadaan parah, kemiskinan, kriminalitas, kelaparan, banyak sampah berserahkan/dll. Artinya, ketika kondisi lingkungan sekitar pemerintah dan perusahaan buruk, pencemaran lingkungan dan kemiskinan, maka berakibat pada kondisi pemerintah dan perusahaan tersebut.
Tetapi juga lembaga usaha perlu memerhatikan atau bertanggung jawab terhadap kondisi lingkungan sosial, ekonomi dan budaya disekitar lembaga usaha tersebut. Karena, percuma sebuah perusahaan itu mempunyai modal atau laba yang tinggi, tapi mengabaikan kondisi lingkungan sosial dan budaya masyarakatnya hidup dalam keadaan parah, kemiskinan, kriminalitas, kelaparan, banyak sampah berserahkan/dll. Artinya, ketika kondisi lingkungan sekitar pemerintah dan perusahaan buruk, pencemaran lingkungan dan kemiskinan, maka berakibat pada kondisi pemerintah dan perusahaan tersebut.
Indonesia adalah salah satu negara paling rawan bencana alam dan berisiko terdampak bencana. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) saat ini tengah berupaya meningkatkan keterlibatan lembaga usaha dalam penanggulangan bencana. Lembaga usaha juga diharapkan memiliki inovasi dalam mendukung ketahanan bencana masyarakat di area operasional mereka yang rawan terkena bencana.
Indonesia adalah salah satu negara paling rawan bencana alam. Ketika ada bencana, semua pihak akan terkena dampaknya, mulai dari pemerintah, organisasi, lembaga usaha, hingga masyarakat. Kepentingan bisnis dan masyarakat saling terkait. Bisnis dijalankan masyarakat dan ketika masyarakat terkena bencana maka dampaknya akan terasa pada bisnis. Ketahanan bisnis dapat menunjang mata pencaharian keluarga yang akhirnya berkontribusi pada kesejahteraan negara.
Bahkan sejak 2009, Indonesia telah memproklamirkan diri sebagai salah satu negara yang fokus dan berkomitmen dalam pengembangan dan penerapan ekonomi hijau ini. Itu disampaikan di pertemuan G20 Pittsburgh AS, dan di KTT Rio+20 yang dihadiri oleh berbagai pemimpin dunia.
Dari perspektif ekonomi hijau yang hingga nantinya muncul perspektif ekonomi biru, sama-sama berangkat dari suatu pemahaman tentang arus pembangunan yang mesti merangkul pelestarian alam dalam jangka panjang.
Yakni keberadaan alam sekaligus keberadaan kehidupan sosial rakyat kecil. Alam dan rakyat kecil adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Kehancuran alam adalah kehancuran kehidupan rakyat kecil itu sendiri. Begitu pun sebaliknya. Sebab, siapakah yang paling menderita dari kehancuran alam melebih penderitaan rakyat kecil yang hidup bersama alam.
Dari perspektif ekonomi hijau yang hingga nantinya muncul perspektif ekonomi biru, sama-sama berangkat dari suatu pemahaman tentang arus pembangunan yang mesti merangkul pelestarian alam dalam jangka panjang.
Yakni keberadaan alam sekaligus keberadaan kehidupan sosial rakyat kecil. Alam dan rakyat kecil adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Kehancuran alam adalah kehancuran kehidupan rakyat kecil itu sendiri. Begitu pun sebaliknya. Sebab, siapakah yang paling menderita dari kehancuran alam melebih penderitaan rakyat kecil yang hidup bersama alam.
Lebih lanjut, dikatakan bahwa ekonomi hijau adalah suatu kebijakan ekonomi yang terintegrasi terhadap pelestarian alam yang berkeadilan secara sosial. Mempertahankan alam sembari memarginalkan kehendak dan kehidupan rakyat kecil, adalah suatu konsep yang tak layak disebut model ekonomi hijau. Ekonomi hijau adalah suatu gagasan ekonomi yang bergerak untuk mendorong, bukan hanya kualitas hidup manusia, tapi juga akses kesetaraan sosial dalam ruang-ruang ekonomi yang berkeadilan. Hanya saja persoalan yang dihadapi saat ini adalah, adanya kecenderungan dominasi diskursus ekonomi hijau ini dalam tingkat makro semata. Sehingga cenderung mengabaikan fakta-fakta sosial ekonomi di tingkat mikro.
Selanjutnya, pangkal dari ekonomi hijau sebenarnya harus dilihat dalam keterkaitannya dengan ekonomi kerakyatan itu sendiri yang berbasiskan alam (agraris). Pemerintah ketika ingin menggalakkan ekonomi hijau, tentu saja harus memperhatikan dan menyerap sudut pandang masyarakat lokal dalam merumuskan pembangunan.
Sebab ekonomi hijau tentu saja bukan hanya tentang bagaimana menciptakan teknologi eksploitasi yang ramah ligkungan untuk mendongkrak pencapaian nominal PDB. Tapi juga tentang bagaimana mengemansipasi rakyat sebagai subjek ekonomi secara demokratis untuk mencapai kualitas PDB secara rill, yakni kesejahteraan rakyat dan alam itu sendiri. Kesejahteraan rakyat dan alam yang berasal dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.
Sebab ekonomi hijau tentu saja bukan hanya tentang bagaimana menciptakan teknologi eksploitasi yang ramah ligkungan untuk mendongkrak pencapaian nominal PDB. Tapi juga tentang bagaimana mengemansipasi rakyat sebagai subjek ekonomi secara demokratis untuk mencapai kualitas PDB secara rill, yakni kesejahteraan rakyat dan alam itu sendiri. Kesejahteraan rakyat dan alam yang berasal dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.
Komentar
Posting Komentar