*Masyarakat Aktor Perdamaian, Mencegah Peperangan 2.
*Masyarakat Aktor Perdamaian, Mencegah Peperangan 2.
Peperangan antar bangsa, atau perang saudara di dalam satu bangsa, dapat pecah karena berbagai penyebab antara lain. Jepang menceburkan diri dalam perang dunia kedua didorong oleh motivasi ekonomi, hendak menguasai sumber daya alam minyak dan bahan mentah lain, serta pasaran di negara asia dan pasifik. Nazi Jerman di Eropa melakukan serbuan ke negera eropa lain, untuk apa yang dikatakan Hitler, memperluas (lebesraum) negara Jerman dan juga di dorong oleh keyakinan kaum Nazi bahwa, orang Jerman adalah turunan bangsa Aria yang maha unggul dan telah bernasib akan jadi pemimpin dunia.
Tetapi perang juga dapat karena sesuatu ideologi, Amerika Serikat berperang di Korea Selatan dan kemudian di Vietnam, lalu menyerbu ke Kuba dan kini membantu kaum kontra di Nikaragua, adalah karena didorong oleh sikap ideologi nya yang anti komunis. Perang saudara yang hebat di Tiongkok sesuai perang dunia kedua adalah konflik ideologi pula. Dan sebagainya.
Seorang diplomat ulung negeri Barat merumuskan bahwa peperangan adalah, sebagai sambungan diplomasi dengan memakai senjata. Dengan kata lain, seandainya upaya damai melalui diplomasi biasa tidak berhasil, maka upaya untuk mencapai tujuan akan diteruskan dengan melancarkan satu peperangan. Rumusan ini adalah cerminan sikap yang berkembang dari abad-abad yang lampau, yang diteruskan penerapan-nya oleh manusia hingga hari ini.
Dalam budaya umat manusia di berbagai bangsa juga, masih amat banyak terdapat dorongan ke arah peperangan. Umpamanya, jenderal-jenderal yang menang perang, merekalah yang menulis sejarah bangsanya, sejarah Perancis modern umpamanya amat di dominasi oleh tokoh- tokoh seorang jenderal Napoleon. Sejarah modern juga penuh dengan tokoh-tokoh jendral yang menang perang, seperti Jendral Montgomery dari Inggris yang memimpin serbuan kaum serikat ke daratan Eropa di perang dunia kedua, dan jenderal Eisenhower, panglima tertinggi angkatan perang Amerika Serikat di Eropa, dan puluhan kalau tidak ratusan nama jendral lain, seperti jendral Mac'arthur di medan perang pasifik.
Disamping penyebab di atas, anak-anak, terutama anak laki- laki sejak kecil juga di suapi dengan permainan memakai senjata mainan, dari pistol, pedang, senapan, hingga kereta baja, panahan, dan sekarang permainan roket, pistol, dan senapan laser, dan di video berbagai permainan perang di darat dan di angkasa mengasyikkan berjuta juta anak anak di seluruh dunia. Rambo yang hanya tahu penyelesaian terbaik adalah dalam bentuk perang, yakni maut yang merenggut nyawa manusia, dalam waktu yang amat pendek jadi populer di seluruh dunia. Di tambah lagi dengan berbagai tontonan baik film maupun tv yang banyak sekali memperagakan pemaikan kekerasan, sampai pada bentuknya yang paling sadis. Maka tidaklah heran, mengapa budaya perang tidak kendur-kendurnya sepanjang zaman hingga hari ini.
Hal ini patut mengherankan dan menjadi pemikiran bagi kita, terutama mereka yang cinta perdamaian dan mendambakan satu dunia yang penuh damai. Kehadiran berbagai senjata yang dapat membinasakan bumi ini dan semua yang hidup di atasnya di gudang-gudang senjata berbagai angkatan perang bangsa-bangsa yang hidup di dunia, seharusnya membawa kita pada kesadaran yang kuat. Kesadaran, bahwa dunia hari ini, memakai peperangan sebagai upaya untuk mencapai sesuatu tujuan diplomasi sebuah bangsa, sudah tidak lagi pada tempatnya.
Malahan harus dianggap sebagai suatu langkah putus asa yang akan membinasakan tidak saja pihak-pihak yang melibatkan diri dalam peperangan, tetapi juga bangsa bangsa lain didunia, seandainya salah satu pihak, atau semua yang terlibat, mempergunakan bom nuklir dalam peperangan. Akibat perang nuklir demikian telah diumumkan oleh para ahli dua atau tiga tahun lampau, dan telah mengejutkan banyak orang di dunia. Tetapi tampaknya manusia tidak jera-jeranya, dan yang kita lihat di dunia hari ini adalah masih tetap berlangsungnya perlombaan senjata antara Amerika Serikat dan Uni Soviet Rusia.
Mungkin segala upaya dan pemikiran mengenai masalah perang dan damai ini harus dimulai di rumah atau negeri masing-masing bangsa, karena perang atau gangguan terhadap perdamaian dimulai oleh bangsa bangsa yang menceburkan diri dalam konflik bersenjata.
Selama faktor faktor yang memisahkan satu masyarakat bangsa ke dalam kutub-kutub yang saling memisahkan satu masyarakat bangsa ke dalam kutub-kutub yang saling bertentangan kepentingan baik itu karena ideologi, ekonomi, sosial dan politik, maka kecenderungan untuk menggunakan kekerasan akan terus mengendap dalam masyarakat itu.
Selama faktor faktor yang memisahkan satu masyarakat bangsa ke dalam kutub-kutub yang saling memisahkan satu masyarakat bangsa ke dalam kutub-kutub yang saling bertentangan kepentingan baik itu karena ideologi, ekonomi, sosial dan politik, maka kecenderungan untuk menggunakan kekerasan akan terus mengendap dalam masyarakat itu.
Dalam dunia kini yang telah menjadi demikian kecilnya karena kemajuan teknologi dan informasi, keadaan negeri demikian akan selalu pula dimanfaatkan untuk kepentingan sendiri oleh bangsa-bangsa lain yang merasa perlu berbuat demikian. Dunia kita hari ini masih saja terbagi bagi dalam berbagai kutub yang memiliki persepsi bahwa kepentingan masing masing negeri tidak sama dan malahan saling bertentangan. Negeri-negeri industri maju di Barat ingin mengamankan sumber-sumber daya alam yang diperlukan industri mereka, dan juga mengamakan pasar-pasar bagi industri mereka, proses dalam negeri dan proses luar negeri/internasional kelihatan mempunyai kaitan langsung maupun tidak langsung.
Karena itu dalam, agama islam, mengajarkan bahwa manusia sederajat di mata Tuhan, dan mereka harus saling kenal mengenal, cinta mencintai dan menghormati. Nabi Muhammad SAW telah mengatakan bahwa, "seluruh umat manusia adalah anggota keluarga Tuhan, dan orang yang paling di sayangi Tuhan adalah orang berbuat baik pada manusia yang lain". Hal ini sebenarnya merupakan landasan dan dorongan yang amat kuat ke arah perdamaian di antara umat manusia. Agama Nasrani juga mengajarkan hal yang sama. Agama Budhis malahan sampai "melarang mencabut nyawa segala makhluk yang hidup, cacing dan semut pun tidak boleh dibunuh".
Demikian ganasnya budaya perang manusia sepanjang sejarah perkembangan hidup manusia, karena itu, banyak pemikir yang mendambakan perdamaian, mencurahkan hasil hasil pemikiran, penelitian dan renungan mereka mengenai masalah perang dan damai ini. Karena itu hingga hari ini, setiap umat manusia atau masyarakat yang cinta kehidupan yang adil, harmonis dan damai untuk terus menerus menolak atau mengutuk dan mengubah budaya peperangan manusia dan negara, menjadi budaya kehidupan toleran, harmonis dan damai untuk seluruh manusia dan masyarakat di dunia.
Komentar
Posting Komentar