Postingan

Cerpen: Siang di ICT

Siang itu, saya duduk di lantai bawah/dasar gedung Infokom. Kebetulan siang itu, saya baru balik dari kantor jurusan/program studi ekonomi syariah, untuk mengumpulkan tugas UTS Take-Home mata kuliah, Metodologi Penelitian Ekonomi Syariah. Sesampainya di gedung itu, saya langsung melihat-lihat kursi yang kosong. Mata saya langsung mengarah ke meja paling ujung timur sebelah barat. Kadang, saya menempati meja itu. Seperti hari-hari biasanya, yang membuat saya terkesan ketika berada di infokom adalah, saya bisa melihat-lihat dan menikmati keindahan bunga-bunga berwarna-warni, pepohonan hijau nan rindang, dan air mancur yang memancar di tengah danau. Selain itu, di arah barat. Terlihat sebagian mahasiswa-mahasiswa yang sedang duduk berderet-deret, ada yang sendirian dan kelompok yang mengikuti perkuliahan, ada yang istirahat sambil menatap layar gadget, membaca buku-buku, ada yang bersenda gurau dan bercanda ria bersama temannya masing masing. Juga ada, yang numpang eksis foto-foto d...

*Tentang Waktu, Pendidikan, dan Kematian

PERUBAHAN itu suatu keniscayaan, suka atau tidak suka umat manusia tetap menghadapi Perubahan. Hingga hari ini kita merasakan perubahan teknologi informasi, perkembangan ilmu pengetahuan, infrastruktur,dll. Tetapi hakikat perubahan adalah perubahan cara manusia berpikir dan berperilaku dalam masyarakat dan negara. Karena alam semesta dan masyarakat terus berkembang dengan ditandai pesatnya ilmu pengetahuan dan teknologi infomrasi, maka setiap manusia cenderung mengikuti perubahan-perubahan zaman yang baru tersebut kemudian mudah meninggalkan yang lama, juga karena menghadapi pesatnya perubahan zaman membuat manusia tidak siap menerima nilai-nilai yang baru dan mengalami culture shock atau future shock. Karena itu, agar tidak mengalami future shock maka setiap manusia kembali kepada norma/nilai agama, karena agama sekumpulan pedoman, petunjuk dan kompas yang menuntun umat manusia agar supaya menjalani aktivitas masa kini, dan kemudian mudah mencapai tujuan yang dicapai dimasa depa...

*Taman di Belakang Rumah

Secara umum, setiap manusia punya tempat favorit dalam mengisi waktu luang atau liburannya. Ada yang memilih mengunjungi pantai. Karena mereka bisa menikmati keindahan lautan, menikmati desiran gelombang, menikmati angin sepoi-sepoi, menikmati keindahan terumbu karang bawah laut, bisa makan besar dan bersenda gurau bareng sanak keluarga, bisa berinteraksi dengan warga lokal, bahkan bisa  mengunjungi pulau-pulau kecil terdekat lautan.  Selain itu, ada yang memilih mendaki pegunungan. Karena mereka bisa menantang diri mereka sendiri, mengukur potensi diri, dan bisa menikmati momen-momen suka duka dan canda bahagia bersama melewati disetiap perjalanan yang mereka lewati. Ya, tidak mengapa. Tidak ada yang salah dengan pilihan setia manusia dan keluarga dalam mengisi waktu liburannya. Karena memang setiap manusia punya ilihan, keinginan dan hati nurani masing-masing dalam menjalani kehidupan ini. Juga, Karena manusia memiliki watak dan pengalaman berbeda-beda dalam memilih...

Urgensi Waktu dan Akhlak Malu

“Waktu adalah sungai purba yang mengalir di dunia sejak azali. Ia mengalir di kota-kota dan menghidupkan aktivitasnya dengan energinya yang abadi, atau membuatnya tidur pulas dininabobokan oleh senandung waktu yang lenyap entah ke mana. Ia juga membanjiri setiap jengkal bumi semua bangsa, dan memasuki setiap bidang individu, dengan arus waktunya sehari-hari yang tak mungkin bisa dihentikan”. –Malek Bennabi, Cendekiawan dan Filsuf Muslim Aljazair. Waktu berlalu begitu cepat, saat kita masih "anak-anak" dan "remaja" kita merasa waktu bergulir sangat lambat dan masih lama sehingga di masa muda atau dewasa kita sering berfoya foya, berleha-leha dalam mengarungi kehidupan. Waktu tidak pernah berhenti bergulir, umur terbatas dan badan perlahan lemah dan rapuh, sedangkan detik ini kita masih di beri jiwa raga sehat, tetapi kita belum mampu memanfaatkan aktivitas yang produktif bagi diri sendiri, masyarakat dan negara. Orang-orang Barat adalah orang yang sangat meng...

*Narasi Ibn Miskawaih dan Akhlak Mulia

*Narasi Ibn Miskawaih dan Akhlak Mulia (Resensi Buku Menuju Kesempurnaan Akhlak, Ibn Miskawaih ) Buku Menuju Kesempurnaan Akhlak, ini adalah berasal dari naskah klasik berbahasa arab,  Tahdzib al-Akhlaq , yang ditulis oleh Abu Ali Ahmad Ibn Miskawaih (330-421 H./941-1030 M), yang menurut para ahli merupakan buku daras (buku rujukan) pertama tentang filsafat etika islam. Buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Helmi Hidayat, dan kemudian disunting oleh Ilyas Hasan dengan merujuk kepada edisi bahasa inggrisnya,  The Refinement of Character , terbitan The American University of Beirut, Beirut,1968. Pembabakannya mengikuti edisi buku aslinya yang berbahasa arab, hanya sebagian judul wacana dan pasal-pasal dalam buku ini mengacu kepada buku terjemahan bahasa inggris termaktub, yaitu untuk memudahkan pembaca dalam mencerna isi buku secara kesleuruhan. Ibn Miskwaih Abu Ali Ahmad Ibn Miskawaih (330H/941M-421/1030), terkenal dengan nama Ibn Miskawaih, adalah se...

*Menghidupkan Cahaya Ilmu dan Akhlak Mulia

Cahaya yang diciptakan oleh Allah swt seperti matahari, bulan, bintang itu bersifat rahmatan lil alamin . Artinya adalah bahwa setiap ciptaan Allah swt diperuntukkan bagi seluruh umat manusia. Diberikan kepada siapa saja didunia ini tanpa memandang agama, suku, ras, budaya daerah, dan bahkan cahaya Allah swt itu diberikan kepada orang-orang yang tidak percaya, membangkan atau menolak kepada risalah nabi dan kebenaran al-qur’an. Maka, begitu cahaya Allah swt menyinari bumi, dan cahaya alam semesta ini, semua umat manusia bisa menikmatinya. Akan tetapi, cahaya Allah yang diberikan kepada hati manusia disebut hidayah itu adalah hanya diberikan kepada orang-orang yang dikehendaki oleh Allah swt, dan juga Allah swt memberikan cahaya kepada setiap individu yang siap menerima cahaya-nya. Dan orang orang yang didalam hatinya menginginkan kebenaran sejati, petunjuk hidayah Allah swt. Jadi untuk memperoleh cahaya Allah swt, yaitu dalam setiap diri manusia harus ada kemauan untuk mendapatkan ...

Cerpen: Menempuh Jalan Sunyi

Hingga detik ini. Aku masih memilih jalan sunyi. Jalan terjal penuh onak dan duri. Jalan yang dibutuhkan kesabaran, kegigihan, dan kejernihan iman dan ahlak dalam melewatinya. Jalan setapak, jalan kecil, menembus gedung-gedung, berpijak dengan langkah ringan dan fokus, sesekali menerobos lika-liku rumah rumah, lika-liku hutan belantara.  Entah kenapa, akal fikiranku selalu membawanya, membawa ke lembah kesunyian dan keheningan ini. Entah kenapa, hati nuraniku selalu bergetar dan bergelora ketika menempun jalan ini. Akalku, hatiku dan kakiku, seirama dalam meniti jalan sunyi ini. aku yakin dan percaya. Bahwa segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah swt di bumi ini adalah tidak ada yang sia-sia, semuanya bermakna. Boleh jadi, ketika aku tersesat dijalan yang gelap dan sunyi. Aku menemukan sahabat, menikmati cahaya rembulan dan menghidupkan iman dan akhlak mulia hingga mencapai impian atau tujuan yang hendak aku capai. Boleh jadi, ketika aku menepi sendirian ini. Aku bisa ...